News & Events

Bagaimana Bank Bisa Kurang Berhasil dalam Pengelolaan Data?

Published on September 2, 2021

DataStax - Bank and sektor finansial adalah lini terdepan dalam transformasi digital, dan sebagai hasilnya, bank memiliki data nasabah dan transaksi dalam jumlah sangat besar. Banyak bank menggunakan data tersebut untuk membuat aplikasi data-driven sesuai dengan tuntutan nasabah saat ini.

Namun, banyak Bank masih belum berhasil dalam hal pengelolaan data tersebut.

Sebuah studi yang dilakukan Accenture tahun 2019 menyebutkan bahwa nasabah menginginkan Bank mereka memiliki baik kantor cabang fisik maupun layanan digital, dan 86% nasabah mempercayakan Bank mereka untuk menjaga kerahasiaan datanya. Nasabah mengharapkan pengelolaan data yang baik dari Bank mereka.

Bagaimana Bank Bisa Kurang Berhasil dalam Pengelolaan Data?

Volume data yang besar, ancaman fraud dan serangan cyber, serta regulasi yang ketat membuat pengelolaan data menjadi tantangan tersendiri bagi bank, padahal sangat penting bagi bank untuk meletakkan pengelolaan data di lini depan strategi transformasi digital.

Jadi, di mana letak kekeliruan bank, dan bagaimana mereka membenahi kekeliruannya?

Sistem Lama yang Sudah Ketinggalan Zaman Membuat Pengelolaan Data Berukuran Besar Menjadi Sulit

Banyak Bank masih menjalankan sistem lama dan menimbulkan kesulitan dalam mengelola data yang semakin besar. Sistem lama warisan ini membuat aplikasi sulit mengakses data transaksi dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan nasabah. Sistem lama ini juga mempersulit bank dalam menganalisa data yang diperlukan untuk keputusan berdasarkan data (data-driven) dengan cepat.

Sebuah studi dari McKinsey menemukan bahwa kendala paling umum yang menghambat institusi finansial adalah arsitektur data yang tidak efisien dengan berbagai macam IT warisan lama. Bank bisa menghemat biaya antara 30-40% dengan menurunkan waktu yang dibutuhkan untuk merespon permintaan data. Dan bank yang menyederhanakan arsitektur datanya, meminimalisir fragmentasi data dan mengurangi redundansi sistem bisa menghemat biaya antara 20 hingga 30%.

Persaingan yang Semakin Ketat Membuat Kesenjangan Semakin Besar dalam Pelayanan Nasabah

Nasabah semakin membutuhkan layanan digital, dengan pilihan utama pada bank yang mampu menyediakan layanan digital dan mobile yang cepat dan tanpa hambatan. Nasabah sekarang dapat mengelola keuangan mereka dengan lebih mudah, lebih banyak akses ke aplikasi pinjaman dan proses approvalnya, dan mengharapkan adanya program loyalty reward.

Bank yang lambat dalam memberikan layanan akan beresiko kehilangan nasabahnya, berpindah ke bank lain yang lebih responsif dengan layanan yang lebih terarah dan personal.

Studi Accenture tahun 2019 menemukan bahwa 57% nasabah menginginkan adanya peringatan ketika mereka terlalu banyak menarik dananya, dan 49% menginginkan tips penghematan berdasarkan pola pengeluaran mereka. Hal ini membutuhkan respon yang cepat di sisi bank, yang berarti membutuhkan akses data yang cepat dan pengelolaan data yang lebih baik.

Regulasi perbankan kini mengizinkan data digunakan dalam integrasi API, dan fintech bersaing ketat dengan bank dalam menggunakan data untuk membantu nasabahnya. Dan nasabah terlibat dalam proses ini. Studi yang sama menunjukkan:

  • 78% nasabah bersedia membagi datanya untuk efisiensi yang lebih tinggi.
  • 83% nasabah bersedia membagi datanya untuk mendapatkan simpanan dana yang lebih banyak.
  • 72% nasabah bersedia membagi datanya untuk penawaran yang lebih personal berdasarkan lokasi mereka saat ini.

Seiring dengan bank menggunakan data nasabah untuk meningkatkan layanannya, semakin meningkat jumlah nasabah yang mempercayakan data pribadinya kepada bank.

Bank harus meningkatkan pengelolaan data mereka untuk meningkatkan layanan nasabah yang lebih optimal dan konsisten. Untuk mencapai hal ini, enterprise data layer memegang kunci utama dalam transformasi digital.

Nasabah Membutuhkan Layanan Instan, Tetapi Data yang Tersebar Menghambat Agilitas

Perubahan layanan nasabah ke arah digital membutuhkan informasi perbankan yang tersedia secara instan dan aman.

Aplikasi cloud membantu perbankan menyediakan layanan nasabah yang lebih personal, menjawab pertanyaan nasabah dan memberikan akses 24/7. Tetapi jika layanan ini terasa lambat, nasabah akan mudah beralih ke kompetitor.

Data yang tersebar (siloed data) adalah penyebab utama masalah ini. Ketika data diletakkan di berbagai lokasi terpisah, semakin banyak resiko diserang okeh hacker, dan keamanan data semakin rentan. Experian pada tahun 2008 melaporkan bahwa ada sebanyak 1579 serangan cyber yang membocorkan data sebanyak 179 juta record, 44% peningkatan dalam serangan dan 389% peningkatan dalam jumlah data yang bocor.

Ketersebaran data mempengaruhi responsifitas, membuat layanan nasabah menurun dan mereka mulai melirik bank lain sebagai alternatif.

Akan tetapi, dengan data yang tersebar di berbagai data center dan wilayah, penyebaran data tidak bisa dihindari tanpa adanya solusi pengelolaan data yang mengintegrasikan dan menyatukan data-data tersebut.

Pengelolaan database terdistribusi dapat menyediakan skalabilitas linier, arsitektur masterless, dan enkripsi end-to-end yang dibutuhkan bank dalam menyediakan aplikasi modern bagi nasabahnya. Ini juga membantu bank memenuhi ketentuan regulasi seperti General Data Protection Regulation (GDPR) dari Uni Eropa.

Database Relasional Tidak Dapat Mengendalikan Lingkaran Fraud yang Semakin Canggih

Bagi bank, masalah keamanan bukan hanya masalah kepatuhan, keamanan cyber dan perlindungan data nasabah. Hal ini juga mencakup pencegahan penipuan atau fraud.

Untuk mencegah fraud, bank harus memiliki sistem pengelolaan data dengan kemampuan real-time graph dan kemananan skala enterprise. Ini adalah syarat minimum untuk mencegah fraud yang bisa mempengaruhi layanan nasabah.

Perbankan memiliki standar tertinggi melebihi bidang industri yang lain. Kepercayaan nasabah tidak mudah diraih, dan bisa hilang sewaktu-waktu. Dari masalah mengelola data yang besar, memberikan layanan nasabah secara personal, mencegah fraud, Bank-bank yang belum menggunakan pengelolaan data terdistribusi akan menemui kesulitan.

PT Strategic Partner Solution

  The Bellezza Shopping Arcade
    2nd Floor Unit SA15-16
    Jl. Arteri Permata Hijau, Kec. Kby. Lama
    DKI Jakarta 12210
  +62 812 8700 0879
  info@myspsolution.com

NETWORKING

Bandung

  Jl. Jend. Sudirman No. 757
    Bandung 40212
(62-22) 603 0590 (Hunting)
(62-22) 603 0967

Medan

  Kawasan Industri Medan Star
    Jl. Pelita Raya I Blok F No. 5
    Tanjung Morawa Km 19,2
    Deli Serdang 20362
  (62-61) 7940800
  (62-61) 7941990

Semarang

  Jl. Tambak Aji I / 6
    Komp. Industri Guna Mekar
    Semarang 50185
  (62-24) 866 3521
  (62-24) 866 3529

Surabaya

  Jl. Ngemplak No. 30
    Komplek Ambengan Plaza
    Blok B 35-37
    Surabaya 60272
  (62-31) 531 9635 (Hunting)
  (62-31) 531 9634

Lampung

  Perumahan Gunung Madu Plantation
    Jalan Pulau Morotai Blok B No. 1
    Kecamatan Sukarame - Tanjung Baru
    Bandar Lampung

Surakarta

  Jalan Melati No. 2,
    Kelurahan Purwosari
    Laweyan, Surakarta

Palembang

  Komplek Ilir Barat Permai
    Blok D.I. No. 31
    Kelurahan 24 Ilir, Palembang

Samarinda

  Jalan Ir. Sutami, Pergudangan Tahap II
    Blok S No.3B
    Karang Asam, Samarinda

Makassar

  Jalan Ir. Sutami,
    Komplek Pergudangan Parangloe Indah
    Blok C-II 3/6, Makassar

Pontianak

  Jalan Raya Wajok Hilir Km. 15,65
    Siantan, Pontianak